STKIP Hamzar Lombok Utara, SK Kemdiknas RI No. 04/D/O/2011 menerima mahasiswa baru Tahun Akademik 2011/2012, dengan Program S-1 PGSD dan PGPAUD.Tempat Pendaftaran: Adlan Mamnun, Dusun Lendang Mamben Desa Anyar, hp. 081 907 520 004 atau Studio Primadona FM, Ancak Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara (M. Syairi) hp. 081 917 760 145. Email: ariprimadona@gmail.com,stkiphamzar8@gmail.com###Program Yamtia: Pendirian Perguruan Tinggi D-III Perbankkan Syari'ah, Perguruan Tinggi S-1 Tarbiyah dan kedua Perguruan Tinggi dalam proses perijinan, Pendirian Pasar Ponpes, Bank Syari'ah, dan Pendirian Pusat Kesehatan Ponpes. Bagi Mahasiswa STIKES dan STKIP Hamzar diharap bergabung digrup FB STKIP Hamzar Lombok Utara

Selasa, 12 Juli 2011

Menghadapi Bencana Sesuai Dengan Tuntunan Islam

oleh : Sahlan Rafiqi (Kontributor Arab Saudi)

Seperti sudah kita ketahui bersama-sama, dalam 2 tahun ini telah terjadi berbagai macam bencana, baik dari alam maupun karena faktor lain. Apabila mau dirunut dari mulai Tsunami, Banjir Bandang, Tanah Longsor, Gempa Bumi, Angin Topan, Gunung Meletus, bahkan hingga Longsor Sampah pun ada di Indonesia.

Memang bencana yang terjadi tersebut membuat hati siapa saja menjadi sedih. Bagaimana tidak, telah ratusan ribu korban jiwa yang tiada akibat bencana tersebut. Namun, kadang kala perasaan sedih dan prihatin tersebut tidak dapat memunculkan solusi dan jalan keluar. Yang ada hanya rasa penyesalan dan putus asa tanpa dapat menemukan arah.

Untuk itu, kita sebagai umat yang beragama (dalam hal ini Islam) haruslah introspeksi diri kita kenapa bencana ini bisa menimpa secara terus menerus. Dengan berintrospeksi diharapkan kita dapat mengambil ibrah(pelajaran) dan hikmah dari bencana yang melanda.

Allah sebagai pemilik segala kehendak mengenai apa yang terjadi pada diri makhluknya pastilah memberikan sebuah pelajaran dalam bencana yang diturunkan kepada umat manusia. Ada tiga hal yang menyebabkan bencana itu dapat terjadi menurut Al-Qur'an.

1. Bencana yang timbul di negeri kita tercinta ini diakibatkan karena perbuatan tangan manusia. Hal ini tentu telah jelas terlihat di sekitar kita. Adanya pembalakan hutan secara liar yang mengakibatkan gundulnya hutan penampung air. Pencemaran lingkungan yang menyebabkan banyak penyakit menimpa manusia. Masih banyak contoh perbuatan tangan manusia yang menyebabkan kerusakan di muka bumi lain. Mungkin kalau mau dituliskan akan menghabiskan berlembar-lembar kertas.

Allah telah mengungkapkan kenyataan tersebut dalam Al-Quran yaitu pada QS 30:14 atau pada Surat Ar-Rum ayat 41,

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Secara jelas tertulis dalam ayat diatas bahwa adanya kerusakan di darat dan laut diakibatkan oleh manusia. Akibatnya pun sekarang telah kita rasakan. Tujuan Allah menunjukkan kepada kita akibat kerusakan tersebut adalah agar kita kembali ke jalan yang benar. Masalahnya adalah, apakah kita sekarang telah kembali ke jalan yang benar setelah merasakan akibat perbuatan kita sendiri ??

2. Bencana yang timbul di negeri yang kita cintai ini adalah karena Allah memberikan azab kepada ummat manusia yang telah berlaku zhalim. Allah murka atas kezhaliman yang telah melampaui batas dan merusak peradaban manusia.

Sudah banyak kisah yang kita dengar ataupun kita baca mengenai azab yang Allah turunkan kepada ummat-ummat sebelum kita. Di Al-Quran banyak terdapat ayat yang menjelaskan mengenai kehancuran peradaban manusia di masa lampau. Kebanyakan peradaban tersebut adalah kaum yang diturunkan nabi atau rasuk diantara mereka. Namun, kebanyakan dari mereka mengingkari kebenaran yang dibawa oleh utusan Allah.

Contohnya adalah kaum nabi Nuh yang ditenggelamkan dalam banjir terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia. Kaum ini mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi Nuh, padahal beliau telah berdakwah selama 950 tahun !! Allah pun akhirnya murka dan memusnahkan kaum ini untuk digantikan dengan kaum yang baru. Ataupun kisah kaum nabi yang lain seperti
- Kaum nabi Luth yaitu bangsa Sodom. Mereka telah melakukan tindakan Homoseksual antara sesama mereka. Allah memusnahkan mereka dengan menurunkan hujan batu dan hancurlah peradaban mereka karena kefasikan mereka (QS 27:58).

- Kaum nabi Hud yaitu bangsa 'Aad. Mereka telah dikaruniai oleh Allah dengan kekayaan yang melimpah dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang. Mereka pun menjadi sombong dan merasa paling hebat. Akhirnya Allah menurunkan suara keras yang mengguntur atau petir yang hebat untuk memusnahkan mereka (QS 41:16).

- Kaum nabi Soleh yaitu bangsa Tsamud. Mereka telah dikarunia teknologi tinggi dibuktikan dengan kemampuan mereka untuk membangun rumah dari gunung-gunung yang dipahat. Namun mereka mengingkari nikmat Allah. Mereka pun dibinasakan oleh Allah dengan gempa bumi yang memusnahkan semua kehidupan yang ada (QS 7:78).

- Kaum nabi Syuaib yaitu bangsa Madyan. Mereka telah melakukan kecurangan dengan mengurangi takaran dan timbangan dalam setiap transaksi perdagangan. Allah mengazab mereka dengan gempa yang dahsyat (QS 29:37).

Masih banyak contoh kaum lainnya yang menerima azab dari Allah dan sekarang telah musnah dari muka bumi. Melihat keadaan yang saat ini terjadi di dunia, kerusakan dan kemaksiatan yang terjadi jauh lebih parah dari pada zaman ummat terdahulu.

3. Allah menurunkan bencana kepada negeri yang kita cintai ini juga bisa jadi dikarenakan Allah sedang memberikan ujian kepada kita. Layaknya seorang pelajar yang ingin naik kelas, maka haruslah melewati sebuah ujian terlebih dahulu. Apabila lulus maka anak naik kelas, sedangkan kalau tidak lulus maka tetap di kelas yang sekarang.

Sama juga seperti kasus Allah yang memberikan ujian kepada manusia. Allah mengetes keimanan kita melalui bencana. Apabila kita bisa bersabar dan tetap berserah diri kepada Allah, maka kita akan lulus. Kalau pada akhirnya kita tidak sanggup bersabar maka kita tidak lulus ujian untuk menjadi orang beriman.

Dari semua kemungkinan alasan Allah menurunkan bencana kepada negeri Indonesia, tetap pada Akhirnya kita haruslah bersabar dan berserah diri kepada Allah. Seperti yang termaktub dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 153,

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Kemudian selanjutnya dalam ayat 155-157, Allah melanjutkan mengenai jenis dari ujian tersebut serta ciri-ciri orang yang beruntung,

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Semoga kita semua dapat menjadi orang yang selalu bersabar dalam menghadapi setiap bencana dan musibah yang datang.
READ MORE - Menghadapi Bencana Sesuai Dengan Tuntunan Islam

Ketika Hati Galau dan Terasing

Oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham

Ibnu Mas'ud RA pernah didatangi oleh jamaahnya selepas taklim. "Tempat mana yang harus aku datangi saat aku mendapati keadaanku galau dan terasing?" seru jamaah.

"Datangilah tempat yang Alquran sering dibacakan. Kamu duduk dan simak bacaannya. Niscaya kamu akan dapati ketenangan. Lalu, datangi tempat-tempat yang kamu diajak untuk mengingat dan menyebut Allah dan akan bertambah ilmumu. Terakhir, datangi alas sajadahmu di keheningan malam dan mengadulah kepada Rabb Pengatur hidupmu."

Cerita sarat hikmah ini boleh jadi menjadi bagian dari cerita hidup kita. Karena satu hal yang pasti, keadaan galau dan terasing menjadi sesuatu yang tidak bisa terpisah dalam perjalanan hidup manusia. Dan, di antara kunci melepas lara dan keterasingan hidup adalah dengan sering mendatangi majelis-majelis ilmu dan zikir.

Rasul pernah mengatakan, betapa beruntungnya orang yang rajin dan istiqamah hadir di majelis-majelis ilmu dan zikir. "Tidaklah satu kaum duduk membaca Alquran lalu mengkajinya dan berzikir kecuali akan menyita perhatian para malaikat, terliputi ketenangan di hatinya, ditenggelamkan dalam lautan rahmat-Nya dan semakin dimasyhurkan namanya di hadapan makhluk Allah."

Ada banyak hikmah yang didapatkan dengan sering duduk berbaur dalam lautan manusia yang berzikir dan menuntut ilmu. Inilah yang akan kita dapati dengan menghadiri majelis kebanggaan Allah dan malaikat-Nya itu.

Pertama, ilmu dan pengetahuan kita semakin bertambah. Hal yang tidak bisa dimungkiri adalah sering kali masalah menghimpit kita dan sulit menemukan cara menyikapi dan penyelesaiannya. Boleh jadi lantaran keterbatasan ilmu dan pengetahuan kita. Dengan hadir di majelis ilmu dan zikir, berarti ada upaya pengayaan informasi dan ilmu.

Kedua, iman terjaga dan bertambah kuat. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal." (QS al-Anfal [8]: 2).

Ketiga, tumbuh kecintaan kepada ulama. Rasul bersabda, "Siapa yang memuliakan ulama, kalian memuliakanku dan siapa yang memuliakanku, Allah muliakan dengan surga-Nya."

Keempat, cara paling jitu menghancurkan keangkuhan diri. Saat menegakkan kepala ke atas, melihat para ustaz, bukankah artinya kita mau mendengar dan melihat siapa yang di atas kita.

Ketika merintih dalam doa, maknanya supaya keluhan kita didengar. Itu artinya kita kecil, bodoh dan teramat banyak kekurangan. Karenanya, duduk di majelis zikir dan ilmu, pada gilirannya mampu membekap kesombongan kita.

Kelima, berkumpul dengan orang saleh. Insya Allah, mereka yang hadir di majelis zikir atau ilmu adalah para perindu, pemburu kasih sayang, dan rida Allah. Mereka adalah orang-orang yang ingin hidupnya bermakna dan bahagia dunia akhirat. Nabi SAW bersabda, "Saat orang-orang saleh berkumpul dan menyebut Allah, malaikat mengepakkan sayapnya dan menaungi mereka dengan untaian doa: "Ya Allah rahmati mereka dan ampuni mereka."

Tulisan ini dimuat di Koran Repubika Edisi hari ini dengan judul Kekuatan Majelis Zikir dan Ilmu
READ MORE - Ketika Hati Galau dan Terasing

Tiga Jenis Hakim, Hanya Satu yang Masuk Surga

Oleh Dr A Ilyas Ismail

Sikap dan perilaku hakim selalu disorot, baik pada masa lalu maupun masa sekarang ini. Pasalnya, selain memiliki otoritas dan kekuasaan yang besar, hakim juga acap kali menghadapi godaan yang juga luar biasa besar, terutama godaan harta dan kekayaan dunia.

Menarik disimak, hadis yang sangat populer yang dirawikan oleh para pengarang kitab Sunan bahwa para hakim itu hanya tiga orang. Satu orang di surga dan dua lainnya di neraka. Seorang yang di surga adalah hakim yang mengetahui kebenaran, lalu menetapkan hukum dengan kebenaran itu. Ia di surga. Seorang lagi, hakim yang mengetahui kebenaran, tapi culas. Ia tidak menetapkan hukum berdasarkan kebenaran. Ia di neraka. Yang satu lagi, hakim yang bodoh, tidak tahu kebenaran, dan menetapkan hukum atas dasar hawa nafsu. Ia juga di neraka. (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Jadi, hakim yang benar dan jujur-berdasarkan hadis di atas-hanya sepertiga, sedangkan dua pertiga sisanya adalah hakim-hakim yang korup dan culas. Hadis ini, menurut pakar hadis, al-Munawi, merupakan teguran dan peringatan bagi para hakim agar mereka menjaga kejujuran dan integritas yang tinggi. Hadis ini, lanjut al-Munawi, berbicara pada tataran realitas (bi hasb al-wujud) dan bukan berdasarkan idealitas-formal (la bi hasb al-hukm).

Dalam Alquran, para penguasa dan semua aparat penegak hukum, termasuk para hakim, dipatok untuk memiliki dua sifat dasar, yaitu adil dan amanah. Tanpa dua sifat ini, para aparat penegak hukum sulit tidak terjebak pada kejahatan dan praktik mafia hukum. "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil." (QS al-Nisa' [4]: 58).

Ayat ini, menurut ulama besar dunia, Yusuf al-Qaradhawi, sangat penting dan secara khusus ditujukan kepada para penguasa. Adil dalam ayat ini berarti memahami kebenaran (hukum-hukum Allah) dan menetapkan perkara atas dasar kebenaran itu dengan jujur, adil, dan tanpa pandang bulu sesuai prinsip equal before the law. Sedangkan amanat bermakna, antara lain, bertanggung jawab, memegang teguh sumpah jabatan, profesional, serta menjunjung tinggi kemuliaan hakim dan lembaga peradilan.

Menurut Umar Ibnu Abdul Aziz, khalifah yang dikenal sangat adil, integritas para penegak hukum itu sangat ditentukan oleh kompetensi intelektual, moral, dan spiritual mereka dalam 5 hal. Apabila satu saja tak terpenuhi dari lima kompetensi itu, demikian Abdul Aziz, para penegak hukum itu tidak akan selamat dari aib atau keburukan.

Kelima kompetensi itu, secara berturut-turut dikemukakan seperti berikut ini. Pertama, fahiman, yakni memahami dengan baik soal hukum. Kedua, haliman, memiliki hati nurani dan sifat santun. Ketiga, `afifan, memelihara diri dari dosa-dosa dan kejahatan. Keempat, shaliban, sikap tegas memegang prinsip. Kelima, `aliman saulan `an al-`ilm, memiliki ilmu dan wawasan yang luas serta banyak berdiskusi. Hanya melalui penegak hukum dengan moralitas dan integritas yang tinggi, hukum dan keadilan bisa ditegakkan di negeri ini. Lainnya tidak. Wallahu a`lam.

Tulisan ini dimuat di Republika Edisi Senin (4/7) dengan judul asli: Integritas Penegak Hukum
READ MORE - Tiga Jenis Hakim, Hanya Satu yang Masuk Surga

Selasa, 05 Juli 2011

Selamat Jalan Pak KH. Zainuddin MZ

KH Zainuddin MZ: Calon Orator Sejak Kecil

Zainuddin Muhammad Zein atau biasa dikenal KH Zainuddin MZ lahir di Jakarta, 2 Maret 1951, meninggal di Jakarta, 5 Juli 2011 dalam usia 60 tahun. Ia adalah seorang pemuka agama Islam di Indonesia yang populer melalui ceramah-ceramahnya.

Ia mendapat julukan Dai Sejuta Umat karena dawahnya yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Bintang Reformasi (PBR), kemudian digantikan oleh Bursah Zarnubi.

Zainuddin merupakan anak tunggal buah cinta kasih pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga Betawi asli. Sejak kecil memang sudah terlihat bakatnya dalam seni orasi.

Di rumah kakeknya, Udin—panggilannya—kecil kerap naik ke atas meja untuk berpidato di hadapan tamu-tamu yang berkunjung. Bakat berpidatonya itu tersalurkan ketika Udin masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta.

Di sekolah ini ia belajar pidato dalam forum Ta’limul Muhadharah (belajar berpidato). Dalam ceramahnya ia sering menyisipkan humor dan banyolan yang mengundang gelak tawa audiensnya.

Kebiasaannya membanyol dan mendongeng terus berkembang. Dalam tiap penampilan, ia selalu memukau teman-temannya. Kemampuannya itu pun terus terasah, berbarengan dengan permintaan ceramah yang kian mengalir deras.


KH Zainuddin MZ: Dai Sejuta Umat


Innalillahi wa inna illahi roji'un... Selamat jalan Bapak Dai Sejuta Umat, smoga diterima di sisi-Nya. Amin.

Selamat jalan ayah, terima kasih atas segala ilmu yang telah engkau berikan kepada kami. Kuingin melihat engkau tersenyum di pangkuan Allah SWT. Amin.

Telah pulang guru bangsa kita, Bapak KH Zainuddin MZ. Semoga mauidzah hasanah dan Semangat perjuangan beliau tetap terwariskan kepada generasi penerus bangsa dan amal hasanahnya diterima di sisi Allah SWT. Amin.

Demikianlah bait-bait pernyataan bela sungkawa dari para penggemar setia KH Zainuddin di halaman akun Facebook sang Dai. Ketiga ungkapan duka cita dan kehilangan di atas adalah secuil di antara 32,404 orang penggemar Zainuddin di akun situs jejaring sosial tersebut.

Tak heran, julukan dai dengan sejuta umat memang layak disandang Zainuddin. Dalam tiap ceramah maupun khutbahnya, ulama yang mempopulerkan kata "Betul" ini selalu dihadiri ribuan jemaah, di mana pun ia berdakwah. Dan kini kata "Betul" ini ditiru oleh pelawak Kiwil, lengkap dengan intonasi, logat dan multiplikasi suara sang Dai.

Suami Hj Kholilah ini semakin dikenal masyarakat ketika ceramahnya mulai memasuki dunia rekaman. Kasetnya tak hanya beredar di seluruh pelosok Nusantara, tapi juga merambah ke beberapa negara Asia.

Sejak itu, dai yang punya hobi mendengarkan lagu-lagu dangdut ini mulai dilirik oleh beberapa stasiun televisi. Bahkan dikontrak oleh sebuah biro perjalanan haji yang bekerjasama dengan televisi swasta untuk bersafari bersama artis ke berbagai daerah, dalam sebuah program yang disebut "Nada dan Dakwah".


KH Zainuddin MZ: Ketika Sang Dai Berpolitik


Kepiawaian ceramahnya sempat mengantarkan Zainuddin merambah dunia politik. Pada 1977 hingga 1982, ia bergabung dengan partai Islam berlambang Ka’bah, Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Jabatannya pun bertambah. Selain dai, ia kini merangkap politikus. Sebuah pilihan yang ditengarai akan memisahkan dirinya dengan umat yang terdiri dari beragam kalangan dan golongan.

Ketika disinggung tentang ketertarikan pada politik, dulu Zainuddin kerap mengelak. "Saya tidak akan kemana-mana, namun ada di mana-mana," ujarnya. Namun slogan dan prinsip itu sepertinya memudar. Ia memang tidak kemana-mana, namun berada di suatu tempat persinggahan; PPP.

Keterlibatannya di PPP tak bisa dilepaskan dari peran guru ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, sang guru yang pernah menjadi Ketua umum PB NU itu adalah salah seorang deklarator PPP. Zainuddin mengaku lama nyantri di pesantren KH Idham Khalid yang berada di bilangan Cipete, yang belakangan identik sebagai kubu NU.

Sebelum masuk Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP, bapak empat anak ini sudah menjadi pengurus aktif PPP, yakni menjadi anggota dewan penasihat DPW PPP DKI Jakarta.

Berkat kelihaiannya mengomunikasikan ajaran agama dengan gaya tutur yang luwes, sederhana, dan dibumbui humor segar, partai yang merupakan fusi beberapa partai Islam itu jauh-jauh hari—sejak Pemilu 1977—telah memanfaatkannya sebagai vote-getter (mesin pencari suara).


KH Zainuddin MZ: Akrab dengan Si Raja Dangdut

Bersama Raja Dangdut H Rhoma Irama, KH Zainudin MZ berkeliling berbagai wilayah mengampanyekan partai yang saat itu bergambar Ka’bah—sebelum berganti gambar bintang. Hasil yang diperoleh sangat signifikan dan memengaruhi dominasi Golkar, partai penguasa dan mesin politik Orde Baru (Orba).

Tak ayal, kondisi ini membuat penguasa Orba waswas.Totalitas KH Zainuddin MZ untuk PPP bisa dirunut dari latar belakangnya. Pertama, secara kultural dia warga Nahdliyin, atau menjadi bagian dari keluarga besar NU.

Dengan posisinya tersebut, ia mengaku ingin memperjuangkan NU yang saat itu menjadi bagian dari fusi PPP yang dipaksakan Orba pada 5 Januari 1971. Ormas lain yang menjadi bagian fusi itu antara lain Muslimin Indonesia (MI), Perti, dan PSII.

Namun keberadaan Pak Kiai di PPP tak berlangsung lama. Konflik dan intrik politik memaksanya hengkang dari partai Islam tersebut. Ia pun mendeklarasikan berdirinya PPP Reformasi pada 20 Januari 2002.

Tak berselang lama, partai baru ini pun berubah nama menjadi Partai Bintang Reformasi (PBR) dalam Muktamar Luar Biasa pada 8-9 April 2003 di Jakarta. Ia juga secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh partai ini. Namun tak kesampaian sebagai pemimpin negara, karena perolehan suara partai tidak signifikan. Ulama-politikus ini menjabat sebagai Ketua umum PBR hingga 2006.

Pada saat yang sama, sang Dai seperti tenggelam dalam dunia yang membesarkannya; dunia dakwah. Ia makin jarang tampil menyapa umatnya dengan humor segar dan banyolan khasnya, yang hampir tak dimiliki dai-dai tenar lainnya di negeri ini. Kesibukan dunia politik terlalu membelit kehidupannya.


KH Zainuddin MZ: Nada dan Dakwah


Duet dan kebersamaan KH Zainuddin MZ-Rhoma Irama berpuncak pada 1991, ketika dua insan pendakwah beda instrumen ini berkolaborasi dalam film religius "Nada dan Dakwah".

Selain dibintangi Zainunddin-Rhoma, film besutan sutradara kawakan, Chaerul Umam ini, juga dibintangi aktris cantik Ida Iasha, Deddy Mizwar, Nani Widjaja
Zainal Abidin, dan WD Mochtar.

Nada dan dakwah mengisahkan tentang masyarakat Desa Pandanwangi yang mendadak resah karena mendengar kabar bahwa tanah tempat mereka bermukim akan dibeli seorang konglomerat.

Konflik antar penduduk dan para kaki tangan konglomerat pun mulai bermunculan. Konflik itu akhirnya meluas bukan hanya pada masalah tanah, tapi juga menyentuh masalah moral dengan akan didirikannya tempat hiburan dan biliar di tanah tersebut.

Pimpinan pesantren di daerah tersebut, H. Murad yang dibantu Rhoma, berusaha menyadarkan penduduk agar tidak menjual tanahnya. Tampilnya tokoh kharismatik Zainuddin MZ, berhasil menjernihkan konflik tersebut. Bahkan berhasil menyadarkan sang konglomerat Bustani.

Akting pertama di layar lebar nyaris membuahkan Piala Citra buat sang Dai. Ia termasuk nominator peraih Pemeran Pembantu Pria Terbaik. Namun Zainuddin menolak piala bergengsi bagi insan perfilman tersebut.

Akhirnya, Dewan Juri menghadiahkan piala itu untuk Deddy Mizwar, sebagai penghargaan dalam kategori yang sama. Nada dan Dakwah sendiri berhasil meraih penghargaan dalam kategori Cerita Asli yang didapat Asrul Sani, sang penulis skenario.


KH Zainuddin MZ: "Umat Masih Merindukan Saya"

Petualangan di dunia politik ternyata tidak menenangkan batin Zainuddin. Ia merindukan dunianya yang lama, berbaur di tengah umat yang mengelukannya kala berorasi.

Lepas dari PBR, Pak Kiai kembali kembali fokus untuk berdakwah, mencoba meraih kembali pamornya yang sempat tenggelam lama. Ia mulai mengisi sejumlah pengajian dan majelis taklim di seputaran ibukota dan sekitarnya.

Suatu ketika—sekitar tiga tahun lalu—sang Dai kondang mengisi tausiyah (pengajian) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Sebagaimana dulu, ceramahnya tetap berbobot, berisi, penuh guyon dan humor, namun mengena di hati.

Jamaah yang hadir memenuhi ruang sidang pengadilan yang disulap jadi venue pengajian. Bahkan sebagian di antara mereka yang tidak mendapat tempat di ruang utama, berjejalan di bagian luar ruangan.

Saat itu, Zainuddin terlihat lebih gemuk dari beberapa tahun sebelumnya ketika ia masih sibuk berdakwah keliling Nusantara. "Alhamdulillah, kini saya mulai kembali ke umat," ujarnya, kala ditemui usai ceramah yang berlangsung satu jam lebih itu.

Tidak tertarik politik lagi, Pak Kiai? "Politik cukup sudah. Ternyata maqom (tempat) saya bukan di sana. Biarlah itu menjadi porsi orang lain," jawabnya.

Sambil berjalan beriringan menuju tempat parkir kendaraannya, Zainuddin berbicara tentang banyak hal, terutama tentang come back-nya ke dunia dakwah. "Saya tak henti bersyukur kepada Allah, ternyata umat masih merindukan saya," ujarnya sambil tersenyum. "Dan saya pun sangat merindukan mereka."

Ke depannya, ia berharap akan semakin sering mengunjungi umat, berbaur dan berbagi dengan mereka. "Saya hanya ingin fokus berdakwah sebagaimana dahulu. Saya ingin lebih dekat dengan umat," katanya seraya bergegas ke mobil yang telah menantinya di halaman depan pengadilan.

"Salam ya, buat teman-teman di kantor," ia berpesan. Lalu masuk ke dalam mobil yang membawanya pergi dari kerumunan jamaah.


KH Zainuddin MZ: Hempasan Fitnah Si Penyanyi Dangdut

Di tengah upayanya terjun kembali menekuni dakwah dan mendekati umat, KH Zainuddin MZ dihantam badai fitnah yang cukup besar medio Oktober 2010. Seorang penyanyi dangdut bernama Aida Saskia membuat pengakuan menggegerkan, mengaku menjadi korban tindakan asusila Dai Sejuta Umat.

Kasus yang sempat menggegerkan Tanah Air dan menjadi menu utama sajian media-media nasional itu terjadi tak berselang lama dengan maraknya kasus video Ariel (mantan vokalis Peterpan) dengan Luna Maya dan Cut Tari.

Aida yang muncul dari jagad antah-berantah (baca: tak dikenal) tiba-tiba mengguncang dengan rumor dan gosip yang ia umbar di media. Selama beberapa pekan, informasi di layar kaca dan media cetak dipenuhi berita seputar penyanyi dangdut kelahiran Bogor itu.

Sementara itu, Zainuddin MZ enggan buka suara mengomentari fitnah yang sangat memojokkan dirinya. Pro-kontra pun merebak.

Sebuah kelompok yang menamakan diri Forum Solidaritas Ulama (FSU), kumpulan para pendukung Zainuddin, angkat bicara. Hafiz Syahnara, juru bicara FSU, menegaskan KH Zainuddin MZ tidak pernah melakukan perbuatan keji tersebut. "Demi Allah, tidak pernah melakukan (perbuatan) itu," kata Hafiz, mengutip sumpah Zainuddin MZ.

Kata Hafiz, pernyataan sumpah ini dilontarkan Zainuddin MZ saat pertama kali mendengar kabar tersebut. "KH Zainuddin MZ sangat terganggu dengan isu ini. Namun, dia memilih diam. Begitu juga dengan istrinya. Beruntung, Pak Haji cukup sabar dan bisa menahan emosi. Jadi tidak banyak bicara."

Zainuddin MZ merasa nama baiknya telah dicemarkan. "Aida diduga telah didanai pihak ketiga untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap Pak Haji, keluarga, dan umat," kata Hafiz.

Zainuddin sendiri, dalam sebuah wawancara eksklusifnya dengan salah satu televisi swasta, mengaku mengenal Aida sejak 2011. "Saya kenal dia lewat bapaknya, dan beberapa kali bertemu. Dan setiap pertemuan bapaknya selalu ikut serta," ia menegaskan.

Ditanya apakah dia pernah melihat Aida manggung, lalu mengajak si penyanyi makan berduaan dan seterusnya. Zainuddin menjawab tegas, "Itu hanya dongeng!"

Dia juga membantah telah menikahi Aida secara siri, apalagi menyuruhnya melakukan operasi keperawanan sebagaimana yang dituduhkan selama ini. Zainuddin mengaku heran dengan munculnya fitnah atas dirinya. "Kenapa hal-hal seperti itu muncul. Apa sih target yang mau dicapai?"

Zainuddin menduga ada skenario besar yang tengah membidik dirinya, tatkala ia mencoba eksis kembali di dunia dakwah. Dulu ia pernah dihantam lewat jalur politik, namun tak berhasil karena keburu mengundurkan diri.

Tak berlangsung lama, hempasan fitnah sang penyanyi dangdut kian lemah dan berhenti dengan sendirinya. Tak cukup kuat untuk mengusik kekokohan sang Dai, apalagi menggoyahkannya. Dan Zainuddin MZ pun kembali konsentrasi berdakwah. Bahkan mulai kerap muncul di layar kaca.


Uje tak Sangka Kalimat 'Lelah' Zainuddin Merupakan Kalimat Pamit

Ustadz Jefry Al Buqori (UJe) tak pernah menyangka. Kalimat 'lelah' yang pernah disampaikan KH Zainuddin MZ kepadanya merupakan kalimat 'mohon diri' dai kondang ini.

Uje mengaku sangat memiliki kedekatan emosional dengan Zainuddin. Sehingga, kepergian Dai yang akrab dengan sebutan Dai Sejuta Umat ini adalah sebuah kehilangan besar baginya.

Terutama kehilangan suritauladan kelapangan hati. Ia mengaku belum lama almarhum menyampaikan kepadanya:''Sekarang waktunya antum, karena ayah sudah lelah dan sakit- sakitan''.

Namun, Uje tak pernah menyangka jika kalimat 'lelah' ini merupakan permohonan beliau untuk pamit.sumber:republika.co.id
READ MORE - Selamat Jalan Pak KH. Zainuddin MZ

Bangsa Indonesia Kehilangan Dai Sejuta Umat

Innalillahi wa inna illahi roji'un... Selamat jalan Bapak Dai Sejuta Umat, smoga diterima di sisi-Nya. Amin. Selamat jalan ayah, terima kasih atas segala ilmu yang telah engkau berikan kepada kami. Kuingin melihat engkau tersenyum di pangkuan Allah SWT. Amin.

Umat Islam Indoensia berduka, karena kehilangan sososk ulama yang cukup kharismatik dan sosok penyejuk bangsa. Dialah KH. Zainuddin MZ yang dikenal dengan sebuatan da’I sejuta umat, yang tek pernah lelah memberi kontribusi kerukunan antar umat beragama.

Zainuddin Muhammad Zein yang dikenal KH Zainuddin MZ lahir di Jakarta, 2 Maret 1951, meninggal di Jakarta, 5 Juli 2011 dalam usia 60 tahun di rumah sakit pusat Pertamina Jakarta, sekitar pukul 09.15 wib . akibat terkena serangan jantung. Ia adalah seorang pemuka agama Islam di Indonesia yang populer melalui ceramah-ceramahnya.

Ia mendapat julukan Dai Sejuta Umat karena dawahnya yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Bintang Reformasi (PBR), kemudian digantikan oleh Bursah Zarnubi.

Zainuddin merupakan anak tunggal buah cinta kasih pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga Betawi asli. Sejak kecil memang sudah terlihat bakatnya dalam seni orasi.
Di rumah kakeknya, Udin—panggilannya—kecil kerap naik ke atas meja untuk berpidato di hadapan tamu-tamu yang berkunjung. Bakat berpidatonya itu tersalurkan ketika Udin masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta.
Di sekolah ini ia belajar pidato dalam forum Ta’limul Muhadharah (belajar berpidato). Dalam ceramahnya ia sering menyisipkan humor dan banyolan yang mengundang gelak tawa audiensnya.
Kebiasaannya membanyol dan mendongeng terus berkembang. Dalam tiap penampilan, ia selalu memukau teman-temannya. Kemampuannya itu pun terus terasah, berbarengan dengan permintaan ceramah yang kian mengalir deras.

"Almarhum telah menunjukkan baktinya yang positif dalam membangun semangat kebersamaan di antara umat beraneka latar belakang di Indonesia," kata Fayakhun Andriadi, anggota Komisi I DPR RI.

Sementara Angelina Sondakh, yang bertugas di Komisi X DPR RI, menilai almarhum KH Zainuddin MZ adalah seorang pendidik masyarakat yang berwibawa dan nasionalis. Di tempat terpisah, dua profesional berbeda latar Edward Waleleng dan Stevan Vogez berpendapat bahwa KH Zainuddin MZ sebetulnya merupakan salah satu sosok ulama penting yang piawai dalam membangun spirit kejuangan bangsa.

"Dia tak hanya milik Muslim, tetapi seluruh rakyat. Karena, almarhum mampu memberikan mutiara-mutiara kata orisinil khas Indonesia. Kata-katanya langsung bisa dicerna dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat kita yang majemuk," kata Edward Waleleng. Hal senada juga dinyatakan Stevan Vogez dengan mengucapkan selamat jalan ulama besar masa kini menuju tempat peristirahatan abadi.

Selamat jalan Pak Kiyai, semoga mendapat tempat yang layak disisi Allah SWT. (Ari dari berbagai sumber)
READ MORE - Bangsa Indonesia Kehilangan Dai Sejuta Umat

Senin, 04 Juli 2011

Pemda KLU Akan Dirikan Kemdepag

Lombok Utara - Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara (Pemda-KLU), saat ini sudah merampungkan usulan pendirian Kementerian Departemen Agama tingkat kabupaten.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap banyak usulan dari lembaga pendidikan keagamaan yang ada di KLU yang sekaligus untuk mempermudah pengurusan keagamaan bagi masyarkat dan pemerintah.

Seperti diketahuiberitakan sebelumnya, sejak KLU mekar dari Lombok Barat, untuk urusan keagaaman dan sektor pendidikan agama, masih dikoordinir oleh Kemeterian Agama kabupaten Lombok Barat, sehingga praktis masyarakat Dayan Gunung, khususnya dibidang pengelolaan pendidikan agama, masih mengalami kesulitan dalam mengakses berbagai program dan kebijakan pemerintah.

Terkait proses pembentukan kantor Kementerian Agama tersebut, wakil bupati Lombok Utara, H.Najmul Akhyar ketika memantau kegiatan MTQ ke-2 KLU mengatakan, saat ini pemda tengah merampungkan kesiapan secara administrasi, termasuk dalam waktu dekat akan mengusulkan nama calon pelaksana tugas harian, kanwil kementerian agama KLU. “Ini sebagai bentuk keseriusan Pemda pada masa perubahan anggaran tahun ini, dan akan mengusulkan anggaran untuk pengadaan lokasi pembangunan kantor kanwil kanwil kementerian agama.

Karenanya, H. Najmul Akhyar meminta dukungan kepada masyarakat KLU, termasuk kepada pihak kanwil kementerian agama Lombok Barat, agar seluruh proses pembentukan Departemen Agama Lombok Utara dapat terwujud tahun ini, sehingga berbagai urusan keagamaan dan perbaikan pengelolaan sektor pendidikan agama di KLU berjalan sesuai harapan masyarakat. (Ari)
READ MORE - Pemda KLU Akan Dirikan Kemdepag

Minggu, 03 Juli 2011

Perhatian Islam Kepada Pemuda

Yayasan Maraqitta’limat yang berdiri pada tahun 1952 dan didirikan oleh TGH.M. Zainuddin Arsyad bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial dan ekonomi. Tidak hanya itu, Yayasan Maraqitta’limat juga membentuk sebuah lembaga kepemudaan yang diberinama Himpunan Pemuda Maraqitta’limat yang disingkat dengan HPM. Tentunya HPM ini dibentuk bukan main-main, tetapi karena Yayasan Maraqitta’limat sangat menyadari pentingnya peran pemuda dalam agama Islam. Lalu sejauhmana pentingnya peranan pemuda dalam Islam? Berikut kita simak penjelasan penting peranan pemuda dalam Islam yang ditulis oleh kontributor Buletin Ta’limat News Saudi Arabia.
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu ‘anhu-, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi)
Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa masa muda merupakah salah satu nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dan itu sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan usia muda dan para pemuda. Karenanya berikut sedikit keterangan mengenai pemuda dalam pandangan islam.
Tidak diragukan lagi bahwa para pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia secara umum dan masyarakat kaum muslimin secara khusus, karena jika mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda ummat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini dikarenakan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah memberikan kepada mereka kekuatan badan dan kecemerlangan pemikiran untuk dapat melaksanakan semua hal tersebut. Berbeda halnya dengan orang yang sudah tua umurnya walaupun para orang tua ini melampaui mereka dari sisi kedewasaan dan pengalaman, hanya saja faktor kelemahan jasad -kebanyakannya- membuat mereka tidak mampu untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh para pemuda.
Oleh karena itulah para sahabat yang masih muda -radhiallahu ‘anhum- memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah mengambil dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berbagai macam ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, dan menyampaikannya kepada ummat sebagai warisan dari Nabi mereka. Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany dan selain mereka yang gigih dalam menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, dan masyarakat mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini dan akan terus menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.
Para pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka (para pemuda dari kalangan shahabat) jika mereka mampu untuk memperbaiki diri-diri mereka, mengetahui hak dan kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka yang berkaitan dengan ummat ini. Dan bagi mereka khabar gembira dari Nabi mereka -Shollallahu alaihi wasallam- tatkala beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.”
Perhatian Islam Kepada Pemuda
Agama kita Islam yang mulia ini mempunyai perhatian yang sangat besar mengenai pertumbuhan dan perkembangan para pemuda, karena merekalah yang akan menjadi tokoh di masa yang akan datang, yang akan menggantikan dan mewarisi tugas-tugas mulia dari ayah-ayah mereka kepada ummat ini. Berikut beberapa tuntunan Islam yang berkaitan dengan apa yang kita sebutkan:

1. Islam menuntunkan setiap lelaki untuk memilih istri yang sholihah yang akan lahir darinya anak-anak yang sholeh yang selanjutnya tumbuh menjadi para pemuda yang beraqah dan berakhlak Islamy. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- bersabda mengingatkan setiap lelaki yang mau mencari istri, “Pilihlah yang baik agamanya, kalau tidak maka celaka kamu.”

Hal ini dikarenakan jika Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memberikan rezki berupa anak-anak dari istri yang sholihah maka dia -sebagai ibu- akan tegak melaksanakan perannya dalam rumah tangganya dalam hal mendidik dan mengarahkan anak-anaknya kepada tuntunan Islam. Ini adalah tuntunan Islam kepada para pemuda sebelum lahirnya.
2. Memberikan nama yang baik kepada anak, karena nama yang baik itu juga memiliki makna dan pengaruh yang baik pada akhlak sang anak, karena dia merupakan lambang dari doa atau harapan orang tua kepada Allah tentang anaknya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- memotifasi setiap orang tua untuk memilih nama yang baik buat anak mereka serta menjauhi nama yang jelek atau nama yang menunjukkan atau mengandung makna yang kurang pantas.

3. Melaksanakan nasikah/aqiqah untuk anak, karena hukumnya adalah sunnah mu`akkadah dan memiliki pengaruh yang baik kepada anak. Ketiga perkara di atas adalah tuntunan Islam kepada para pemuda di awal pertumbuhannya.
4. Menaruh perhatian yang besar dalam mendidik anak ketika dia sudah memasuki usia mumayyiz dan sudah mempunyai daya tangkap (paham).Dan telah ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dalam hal ini, bagaimana beliau mengajarkan kepada anak-anak dan para pemuda dari kalangan sahabat semua perkara keagamaan dari yang palng besar sampai pada perkara yang paling kecil. Beliau bersabda kepada Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma- ketika mengajarkan beberapa perkara aqidah kepadanya, “Hai anak kecil, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkataan: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati Dia berada di depanmu, jika kamu meminta maka minta hanya kepada Allah dan jika kamu meminta pertolongan maka minta pertolongan hanya kepada Allah”. (HR. At-Tirmizi)Dan beliau bersabda dalam masalah sholat, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena (mereka meninggalkan) nya ketika mereka telah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidur”.
Dan beliau juga pernah menegur Umar bin Abi Salamah ketika dia sedang makan, “Hai anak kecil, bacalah bismillah (sebelum makan), makanlah dengan (tangan) kananmu dan (mulailah) makan dari (makanan) yang terdekat denganmu”. (HR. Muslim)
Dan selainnya dari hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Islam menaruh perhatian yang besar terhadap para pemuda, dan Islam mengawasi serta mengarahkan mereka dalam setiap fase umur mereka yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan daya tangkap masing-masing pemuda.

Apalagi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- telah mengkhabarkan dalam hadits Abu Hurairah, “Setiap (anak) yang dilahirkan (pasti) dilahirkan di atas fitrah, kedua orang tuanyalah yang membuat dia jadi Yahudi atau Nashrani atau Majusi”.
Hadits ini menunjukkan bahwa fitrah setiap anak yang dilahirkan adalah kebaikan, kebenaran, dan di atas nilai-nilai Islam, dan fitrah ini jika dijaga oleh kedua orang tuanya dan mereka mengarahkannya kepada kebaikan maka sang anak pasti akan mengarah kepada jalan-jalan kebaikan. Adapun jika kedua orang tua menyimpang dari nilai-nilai Islam dalam mendidik anak-anak mereka maka fitrah ini akan rusak dan ikut menyimpang dari nilai-nilai Islam sesuai dengan pendidikan orang tuanya. Maka jika orang tua adalah Yahudi atau Nashrani atau Majusi maka sang anak akan tumbuh di atas agama yang buruk ini yang secara otomatis telah merusak fitrahnya

Adapun jika orang tuanya adalah muslim yang sholeh, pasti dia akan menjaga fitrah yang mulia ini, yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah tempatkan ke dalam hati setiap anak, lalu menumbuhkannya, mensucikannya, dan menjaganya.
5. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan setiap anak ketika kedua orang tuanya atau salah satunya sudah berusia lanjut agar dia berbuat baik kepada keduanya atau kepada yang masih hidup di antara keduanya, dan agar sang anak mengingat pendidikan kedua orang tuanya kepadanya ketika dia masih kecil. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah sampai pada usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra` : 23-24)
Sisi pendalilan dari kedua ayat di atas adalah dalam firmanNya,“Sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.Maka perawatan orang tua kepada anaknya adalah suatu nikmat dan kebaikan untuk sang anak yang wajib dia balas kepada kedua orang tuanya. Bukan yang diinginkan dengan perawatan dalam ayat ini hanya terbatas pada perawatan yang sifatnya jasmaniyah saja, dalam artian mencukupi mereka dalam hal makanan, minuman, tempat tinggal, dan selainnya. Karena jika perawatan sebatas pada perkara-perkara tersebut maka tidak ada bedanya dengan perawatan binatang kepada anaknya. Akan tetapi yang lebih penting dari hal itu adalah perawatan maknawiyah berupa menjaga fitrah sang anak agar tetap suci, mengarahkannya kepada kebaikan, menanamkan nilai-nilai Islam pada dirinya, serta membiasakan mereka untuk tumbuh dan berkembang dalam aturan-aturan Islam, inilah perawatan yang akan mendatangkan manfaat yang pengaruhnya akan terus bersama sang anak.
Adapun sekedar merawat mereka dengan perawatan jasmaniyah, maka hal ini justru lebih mendekati kepada perbuatan merusak mereka daripada memperbaiki mereka. Karena seorang anak, jika dipenuhi semua kebutuhannya dari sisi makanan, minuman, dan keinginan tetapi tidak diberikan perawatan maknawi berupa pendidikan keagamaan yang benar maka ini adalah sebesar-besar faktor yang menyebabkan mereka tumbuh di atas sifat-sifat kebinatangan.
Maka jika kedua orang tua merawat anak mereka dengan kedua jenis perawatan ini maka inilah yang merupakan kebaikan besar yang akan terus-menerus dikenang oleh sang anak ketika dia merasakan kebaikan dari kedua orang tuanya sehingga dia bisa berkata sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Wallahu a’lam bishshawab.
READ MORE - Perhatian Islam Kepada Pemuda

Umat Islam Harus Mandiri dan Produktif

Oleh: H. Sahlan Rafiqi

Allah swt berfirman dalam surat An-Nisaa ayat 9 : “Dan hendaklah takut kepda Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Secara khusus ayat di atas berkaitan dengan waris. Para orangtua dilarang meninggalkan anak keturunannya tak berharta lalu kemudian terhina dengan menjadi peminta-minta. Islam jelas melarang keras umatnya menghinakan diri seperti itu. Umat Islam diharuskan mandiri, produktif dan pemberi sebagaimana adanya kewajiban zakat, infaq dan sodaqoh.

Namun secara umum ayat ini berkaitan dengan hal yang lebih luas, tidak hanya berbicara tentang waris (harta) tetapi juga yang lainnya. Orangtua diharuskan khawatir meninggalkan (mewariskan) kepada anak cucunya dhu’afa (kelemahan) dalam beberapa hal di antaranya :

1. Lemah harta kekayaan. Seperti telah dijelaskan di atas, Islam mengharuskan umat untuk mewariskan harta kekayaan kepada keturunannya. Namun Islam adalah agama yang pertengahan (wasithiyah), seimbang sesuai fithrah insaniyah. Islam bukan agama yang mengharamkan umat memiliki harta, bukan juga agama yang memerintahkan umat untuk mendewakan harta dan menghambakan dirinya kepada harta. Tidak ada larangan dalam Islam untuk memiliki harta, Selama harta itu membuat pemiliknya semakin mendekatkan diri kepada Allah swt.

2. Lemah fisik. Islam mewanti-wanti agar para orangtua tidak meninggalkan keturunannya dalam keadaan lemah fisiknya. Islam mewajibkan umat untuk memiliki kekuatan fisik sebagaimana telah Allah perintahkan dalam surat Al-Anfaal ayat 60 :
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggetarkan musuh Allah dan musuh kalian….”
Rasulullah saw bersabda: “Didiklah anak-anak kalian berenang, melempar dan berkuda.”
Bagaimana mungkin mampu menanggung kewajiban berjihad fi sabilillah jika fisiknya lemah tak berdaya? Bukankah Rasulullah telah mengingatkan bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.

3. Lemah ilmu. Jelas sangat berbahaya jika ada orangtua yang meninggalkan anak keturunannya tidak berilmu. Sebab ilmu adalah modal dasar kehidupan bisa berjalan dengan baik atau tidak. Ilmulah yang pertamakali harus dimiliki oleh setiap muslim sebelum berbicara dan beramal, Imam Bukhari mengatakan “Al-Ilmu qoblal qaul wal ‘amal. “ Hal itulah yang ditegaskan Allah dalam wahyu pertama-Nya kepada Rasulullah saw dalam surat al-‘Alaq ayat pertama “Bacalah (berilmulah) dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan”. Ilmu pula hal yang pertama kali Allah berikan kepada manusia pertama Adam AS, sebagaimana yang Allah kisahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 31. Betapa luar biasanya orang yang memilki ilmu sehingga derajatnya ditinggikan sebagaimana orang-orang yang beriman dalam surat al-Mujadilah ayat 11. (Lihat penjelasan selengkapnya pada artikel ‘Konsep Ilmu dalam Islam’).

4. Lemah Aqidah. Inilah kelemahan yang paling dahsyat bahayanya. Bahaya yang tiada terkira, karena Aqidahlah penentu keselamatan hidup dunia dan akhirat. Orangtua bertanggungjawab penuh atas keselamatan aqidah anak-anaknya seperti yang Allah ingatkan dalam surat At-Tahrim ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….”
Dan apakah kita tidak pernah merenungkan peringatan Allah dalam surat Al-baqarah ayat 133 tentang kisah sakaratul mautnya Nabi Ya’qub AS ?
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”….”

Wahai para orangtua akankah yang kita katakan kepada anak-anak kita saat ajal menjemput sama seperti yang ditanyakan Nabi Ya’qub? Yakni kita mengkhawatirkan anak-anak kita menyembah selain Allah swt. Ataukah justru yang akan kita tanyakan saat nyawa sampai tenggorokan adalah “Maa ta’kuluuna min ba’dii?” Apa yang akan kalian makan sepeninggalku.

Rasulullah saw bersabda; “Setiap anak lahir dalam keadaan beraqidah Islam. Maka tanggungjawab orangtuanyalah jika ternyata anaknya itu kemudian beraqidah kufur seperti Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (Muslim)

Sesungguhnya anak adalah amanah. Anaklah yang di akhirat nanti akan menjadi penentu apakah kita akan masuk Jannah Allah atau Neraka Allah. wh
READ MORE - Umat Islam Harus Mandiri dan Produktif

Sabtu, 02 Juli 2011

Menelusuri Jejak Dakwah TGH.M.Zainuddin Arsyad (Pendiri Yayasan Maraqitta’limat)

Masa Kecil

Mungkin tidak banyak yang mengenal sosok seorang ulama sufi ini, tetapi tidak bisa dipungkiri ulama inilah yang juga telah banyak berjasa dalam mengembangkan ajaran Islam di pulau Lombok.
Dialah Muhammad Zainuddin, nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya sejak lahir sekitar tahun 1912 di Desa Mamben Lauq, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur-NTB. Ayah beliau bernama TGH. Arsyad, yang saat itu menjadi penghulu (tokoh agama). Dan ibunya bernama Inaq Makenun. Kehidupan keluarga beliau cukup sederhana dan agamis.
TGH.M. Arsyad, selain sebagai seorang tokoh agama, juga pada waktu itu sangat gigih menentang penjajahan Jepang di Indonesia. Sehingga beliau bersama santrinya memimpin langsung penyerangan ke markas Jepang yang terletak di Wanasaba-Lombok Timur, yang menyebabkan salah seorang santrinya gugur di medan pertempuran.
Seperti kebanyakan anak lainnya, beliau tumbuh dan berkembang secara wajar. Dari masa kanak-kanak, Zainuddin kecil dalam pergaulannya sehari-hari selalu mencerminkan sifat-sifat terpuji, hormat terhadap orang yang tua, dan sopan kepada sesama. Tidak heran, ketika masa kecilnya banyak orang yang sayang pada dirinya.
Karena mendapat pendidikan agama sejak dini, membuat sifat dan sikap kepemimpinannya sudah mulai nampak terutama dalam pergaulannya sehari-hari, sesuai dengan ajaran agama Islam yang diyakini kebenarannya.
Ketika usia Zainuddin menginjak empat tahun, beliau diasuh oleh Amak Ismail dan Inaq Isah yang sekaligus sebagai orang tua angkatnya. Karena pada saat itu, kedua pasangan ini belum dikaruniai seorang anak. Kendati demikian, Zainuddin kecil sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Berada di buaian dan belaian kasih sayang orang tua angkat, tidak serta merta beliau di lepas begitu saja oleh TGH.M. Arsyad. Dengan penuh rasa kasih sayang, beliau dididik dengan ajaran agama. Sehingga orang tua beliau memiliki peran ganda, yaitu disatu sisi sebagai orang tua, dan disisi lain sebagai sosok guru yang sangat dihormati.
Mendapat pendidikan dari sang ayah yang cukup disiplin, membuat sosok Zainuddin kecil cukup cerdas, jujur, rendah hati baik budi pekertinya dan semakin nampak jiwa kepemimpinannya, walaupun diusia yang masih belia.

Menuntut Ilmu ke Negeri Makkah
 
TGH. M. Arsyad sendiri memiliki beberapa orang putra dan putrid. Salah satu diantaranya adalah Muhammad Zainuddin, yang ketika menginjak usia 6 tahun, atau sekitar tahun 1920, sang ayah dan bunda memutuskan untuk mengirim anaknya ke Makkah Al-Mukarromah untuk menimba ilmu agama. Keberangkatan beliu menuju Makkah didampingi oleh ayahanda TGH. M. Arsyad. Konon, beliau sempat digendong oleh orang tuanya ketika berangkat meninggalkan rumahnya menuju Makkah Al-Mukkaromah.
Di usia 6 tahun dan tinggal bersama orang-orang yang belum begitu dikenalnya, hidup jauh dari kampung halaman, sanak dan saudara, merupakan sebuah pengalaman yang cukup berharga. Pada masa usia belia seperti itu, sebenarnya masih membutuhkan bimbingan dan dampingan dari orang tua. Namun berbeda dengan Zainuddin, masa-masa senangnya bermain harus berpisah sementara dengan semua orang yang dicintainya.
Setelah Sampai di kota suci, TGH.M. Arsyad, langsung mencari sebuah pemondokan untuk anak kesayangannya. Dan Zainuddin kecil dipondokkan di rumah salah seorang Syeikh Ali Mukminah dan menuntut ilmu di Madrasah Darul Ulum.
Apa yang dilakukan oleh Muhammad Zainuddin selama di Makkah Al-Mukarromah? Ternyata tidak banyak yang mengetahui. Karena selama hidupnya, ia tak pernah menceritakan kepada siapapun apa saja yang dilakukan ketika berada di tanah suci Makkah, karena takut kalau ia menceritakan hal tersebut akan menjadi kesombongannya.
Namun kalau dilihat dari peuturan dari beberapa sumber terpercaya, ketika beliau di Makkah tidak diragukan lagi, bahwa M. Zainuddin merupakan orang yang cerdas. Bahkan dalam usia 15 tahun ia mampu menghafal Al-qur’an 30 juz.
Tidak ada waktu yang digunakan oleh beliau kecuali belajar dan belajar. M. Zainuddin adalah alumnus Madrasah Darul Ulum Makkah Al-Mukkarromah yang mendapatkan predikat ‘Mumtaz’ dari para masyaikhnya.
Pada waktu itu, Darul Ulum merupakan madrasah yang banyak diminati oleh orang Indonesia. Dianatara masyaikhnya tyeng terkenal adalah Syeikh Muhammad Basuni Asy-Syafi’i, yang masih keturunan silsilah dari Imam Syafi’i dan Syeikh Muhammad Yasin Padang. Syeikh Muhammad Yasin Padang adalah guru sekaligus teman bagi M. Zainuddin.
Darul Ulum terletak di sebuah perkampungan yang diberi nama Jarwal, lebih kurang 1 kilometer dari Masjidl Haram. Namun kini Darul Ulum sudah tidak bisa didapatkan lagi karena diambil alih oleh Pemerintah Arab Saudi.

Dimimpikan Ibu Angkat
 
Setelah tinggal beberapa lama di kota Makkah Al-Mukarromah, Zainuddin tentu sewaktu-waktu merindukan kampung halamanya. Demikian juga dengan sang ibu angkat beliau. Bahkan suatu malam, Inaq Ismail yang mengasuhnya sejak kecil memimpikan Zainuddin yang sedang menimba ilmu di kota suci, sedang ayik bermain layang-layang. Namun tiba-tiba benang layangan yang dipegangnya putus. Dan layang-layang itupun terbang sangat tinggi.
Mimpi yang sama dialami oleh sang ibu angkatnya ini berulang sampai tiga kali. Dan muncullah rasa kasih sayang sekaligus kekhwatiran terhadap anak yang diasuhnya sejak kecil. Perasaan tidak tenang, hatipun melayang memikirkan apa tabir dari mimpinya itu. Mungkinkah itu hanya sebuah mimpi belaka atau memang ada tabir dibalik mimpi yang terjadi berulang kali itu.
Karena merasa cemas dan tidak tahan, akhirnya mimpi itupun diceritakan kepada sang suaminya Amak Ismail. Dan tentu saja sang ayah angkatpun tidak mampu mentakwilkan mimpi sang istri, sehingga apa yang menggangu pemikirannya saat itu diceritakan langsung kepada ayah Zainuddin yaitu TGHM. Arsyad.
Mendengar cerita mimpi dari ibu angkatnya ini, TGHM. Arsyad membuat sepucuk surat untuk dikirim kepada anak belahan jiwanya di Makkah Al-Mukarromah, yang isinya menanyakan tentang kabar berita di Makkah.
Selang beberapa minggu, surat balasanpun dikirim oleh Zainuddin kepada keluarga di Mamben Lauq. Dalam surat balasannya beliau menceritakan, bahwa baru saja dirinya mengalami sebuah musibah, yaitu jatuh dari sebuah tangga bangunan dari lantai atas. Namun kejadian yang menimpa, tidak sampai dirinya mengalami luka parah, kecuali beberapa bagian anggota tubuhnya yang masih merasa sakit.
Musibah yang menimpa diri Zainuddin, ternyata tidak mengendurkan semangat dan tekadnya untuk terus belajar dan mendalami ilmu agama, hingga tanpa terasa beliau sudah tinggal di Makkah selama 20 tahun, dan menunaikan ibadah haji, sehingga nama beliau dikenal dengan Ustadz H. Muhammad Zainuddin Arsyad.

Kembali Ke Kampung Halaman

 
Sekitar tahun 1938, dimana ketika itu bangsa Indonesia masih dijajah oleh Belanda, Ustadz HM. Zainuddin Arsyad, memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Desa Mamben Lauq, setelah bermukim selama kurang lebih 20 tahun di kota Makkah.
Usia beliau ketika itu masih terbilang remaja yaitu 26 tahun. Selama ustadz muda ini berada di tanah suci, disamping memperdalam ilmu agama Islam, juga memperdalam ilmu bahasa Arab atau Nahu Sharaf, lebih-lebih bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari hari adalah bahasa Arab. Selain itu, beliau juga belajar ilmu tafsir, tashawwuf, tauhid, fiqih dan ilmu-ilmu lainnya.
Dengan penguasaan bahasa Arab serta lamanya bermukim di Makkah, membuat sosok ustadz muda atau ini melupakan bahasa asal kelahirannya. Tidak heran, ketika beliau baru pulang dari Makkah, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan tetangga adalah Bahasa Arab.
Al-marhum TGH. Abdul Manan, pernah menuturkan, sepulang H.M. Zainuddin Arsyad dari Makkah, bahasa komunikasi yang digunakan adalah bahasa Arab, baik terhadap teman maupun terhadap para tamu yang berkunjung ke rumahnya.
Melihat bahasa komunikasi yang demikian, membuat keluarganya waktu itu, sedikit agak bingung, karena sebagian teman dan sahabatnya tidak mengerti apa yang diungkapkan oleh beliau. Dan hal inilah yang menimbulkan sedikit miskomunikasi. Dan konon kebiasaan menggunakan bahasa Arab dalam berkomunikasi sehari hari berlangsung hingga berbulan-bulan.
Akibatnya, muncul asumsi sebagian orang saat itu, yang menganggap Tuan Guru Bajang ini sengaja menggunakan bahasa Arab. Dan tidak sedikit juga yang mencemohkan bahkan mengejek beliau. Namun semua itu ditemia dengan penuh lapang dada dan kesabaran. Sebab bagi dirinya, hal itu bukan unsur kesengajaan, namun karena bahasa sehari-hari, ketika beliu bermukim di tanah suci.
Setelah hampir satu tahun menetap di Desa Mamben, akhirnya bahasa daerahpun mulai digunakan sedikit demi sedikit, sehingga lambat laun menjadi lancar.

Membantu Orang Tua Berdakwah
 
Tuan Guru H.M.Zainuddin Arsyad merupakan alumunus Madrasah Darul Ulum, Makkah Al-Mukarromah yang mendapatkan predikat Mumtaz dari para masyayikhnya. Pada waktu itu, Darul Ulum merupakan madrasah yang banyak diminati oleh orang Indonesia, diantara masyayikhnya yang terkenal adalah Syekh Muhammad Yasin Padang. Syekh Yasin Padang adalah guru sekaligus teman bagi M.Zainuddin. Darul Ulum terletak di sebuah perkampungan yang diberinama Jarwal kurang lebih 1 km dari Masjidil Harom. Namun, kini Darul Ulum sudah tidak bisa didapatkan lagi karena diambil alih oleh pemerintah Arab Saudi.
Pada tahun 1930, TGH.M.Zainuddin Arsyad memutuskan kembali ke tanah air tempat kelahirannya guna mengajarkan masyarakat yang bodoh terhadap agama pada waktu. Menurut sesepuh masyarakat desa Mamben Lauk, ketika kembali ke tanah air beliau sama sekali tidak bisa berbahasa Sasak ataupun Indonesia, beliau hanya menggunakan bahasa Arab. Namun karena kecerdasannya, tidak dalam waktu yang lama beliau sudah fasih bahasa sasak dan Indonesia.
Saat kembali ke tanah air, TGH.M.Zainuddin Arsyad sangat prihatin melihat kondisi masyarakat pulau Lombok yang pada waktu itu masih banyak yang tidak paham dengan agama Islam, Sehingga beliau membentuk sebuah pengajian kecil-kecilan di rumah beliau.

Melihat kesibukan orang tuanya, TGH.M.Arsyad sibuk dalam melakukan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat, maka terbetiklah niat sucinya untuk membantu sang orang tua tercinta dalam menjalankan misi dakwah. Misinya ini diawali dengan mendirikan sebuah tempat pengajian atau majlis ta’lim. Di tempat inilah, Ustadz H.M. Zainuddin Arsyad mulai mengajar membaca Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama, seperti fiqih, bahasa Arab, Tauhid, Tafsir dan lain-lainnya.
Melihat kegigihan putranya dalam mensyi’arkan Islam, TGHM. Arsyad tentu sangat bersyukur kehadhirat Allah SWT. Bahkan tuan guru muda ini sering mengganti sang orang tua untuk memberikan ceramah-ceramah agama kepada jama’ahnya. Biasanya saat itu, khususnya masyarakat Desa Mamben Lauq, sering mengundang penceramah atau tuan guru dari Masbagik.
Namun setelah pulang dari tanah suci, beliau rutin mengisi ceramah agama di Mamben Lauq dan sekitarnya, sampai beliau diberi gelar oleh jama’ah adalah Tuan Guru Bajang. Hal ini didasari oleh penilaian jama’ah, karena beliau dipandang memiliki kecakapan ilmu khususnya di bidang Agama Islam.
Gelar Tuan Guru, khususnya di Lombok, merupakan sebuah gelar yang diberikan oleh masyarakat, bukan karena pendidikannya yang tinggi, namun karena dinilai telah banyak menguasai ilmu-ilmu agama Islam. Dan gelar inipun tidak diberikan pada sembarangan orang.

Menyebarkan Syi’ar Islam

 
Setelah kembali ke tanah air, TGH. M. Zainuddin Arsyad merasa prihatin melihat kondisi masyarakatar Pulau Lombok yang masih banyak belum memahami dengan baik agama Islam. Sehingga dia membentuk sebuah pengajian kecil-kecilan di rumahnya.
Namun dia juga melihat kondisi masyarakat yang ada di pesisir pantai, yang masih banyak belum memehami ajaran Islam yang sebenarnya. Untuk itu, dia memutuskan untuk melakukan misi dakwah ke daerah-daerah pesisir pantai Pulau Lombok, terutama bagi penduduk yang dianggap terisolir dan jauh dari dakwah Islam, bila dibandingkan dengan wilayah perkotaan.
Salah satu jasa besar yang ditinggalkan bagi jama’ah adalah, keberhasilan beliau mendirikan sebuah organisasi keagamaan, yang kemudian dikenal dengan nama Yayasan Pondok Pesantren Maraqitta’limat, yang berarti tangga pendidikan.
Hal ini diperkuat oleh putra beliau, TGH. Hazmi Hamzar, bahwa kegiatan dakwah yang dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan kepada masyarakat pesisir mulai dari ujung timur (Kabupaten Lombok Timur-red) hingga ke pesisir utara Pulau Lombok, seperti Bayan, Panggung hingga Sidutan, Kabupaten Lombok Utara.
Dari pesisir wilayah Utara, beliau melanjutkan misi dakwahnya ke Selatan, tepatnya di Bongor Kabupaten Lombok Barat.
Beberapa tokoh masyarakat menuturkan, disamping beliau menggunakan metode pendekatan, juga misinya ini diiringi dengan berdagang keliling, menelusuri pinggir pantai di Pulau Lombok. Selain itu strategi yang dikembangkan adalah menghargai adat dan kebiasaan masyarakat setempat. Artinya tidak serta merta menghapus atau melarang adat dan kebiasaan masyarakat, kendati dinilai bertentangan dengan ajaran Islam.
Kebiasaan masyarakat yang dimaksud adalah meminum-minuman keras, seperti tuak, Berem atau sejenisnya. Kebiasaan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah membunyikan gamelan, walaupun waktu sholat tiba.
Beliu maklum, bahwa tempatnya berdakwah adalah orang-orang yang masih buta dalam ajaran agama Islam. Begitu juga dengan adat-istiadat yang masih kuat dipegang teguh oleh masyarakat seperti Wetu Telu di Bayan.
Dalam perjalanannya, beliau selalu melakukan silaturrahmi kepada para tokoh, baik tokoh adat yang dituakan oleh masyarakat setempat, maupun tokoh-tokoh agama. Beliau pertama-tama mengajarkan tentang keimanan kepada Allah SWT. Barulah setelah itu jama’ahnya diajarkan cara-cara beribadah.
Jujur, sopan dan santun serta dengan penuh kesabaran, berusaha memberikan pemahaman terhadap para santrinya. Pelan namun pasti, berkat kegigihannya dalam menjalankan misi dakwah ini, lambat laun banyak masyarakat yang sadar akan dirinya, bahwa bahwa kehidupan yang jauh lebih kekal dan abadai adalah kehidupan akhirat.
Satu contoh misalnya, beliau memperbolehkan masyarakat membunyikan alat-alat musik tradisional seperti gamelan. Namun beliu menyarankan, ketika tiba waktu sholat, bunyi-bnyian tersebut dihentikan, dan berkumpul menunaikan sholat secara berjama’ah.
Cara seperti ini, tidak jauh berbeda dengan misi dakwah yang dilakukan oleh para Wali Songo di Pulau Jawa.

Berniaga
 
Bila ditelusuri lebih jauh tentang pola kehidupan TGH.M. Zainuddin Arsyad, tentu kita akan berdecak kagum. Sederhana dan bersahaja, demikianlah yang tampak pada sosok Tuan Guru Sufi ini. Kesederhanaan itu dapat dilihat dalam menjalankan misi dakwahnya. Di satu sisi, beliau adalah da’I, tapi disisi lain, beliau adalah seorang pedagang keliling dari satu kampung ke kampung lainnya.
H. Hasan Nasrin, salah seorang tokoh Maraqitta’limat Kecamatan Bayan menuturkan, berdagang yang dilakukan oleh TGH.M.Zainuddin Arsyad, bukan sebagai tujuan utama, namun itu merupakan sebuah alat untuk berda’wah di tengah-tengah masyarakat.

Dagangan yang dibawa setiap kali menjalankan misi dakwahnya adalah, garam, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabe, kapuk dan pakaian. Barang dagangan ini diambil dari mitra usahanya untuk dibawa keliling, mulai dari labuhan Lombok, Sambelia, Belanting, Obel-Obel, Bayan, Santong, Panggung, Sidutan hingga ke Sembalun.
Barang dagangannya kerap kali ditukar dengan hasil-hasil bumi para petani. Kegiatan berdakwah sambil berdagang terus dilakukan, sehingga di beberapa tempat didirikan musalla, masjid atau madrasah, sebagai tempat membina umat.
H. Lalu Akar, mantan pengurus Yayasan Maraqitta’limat mengatakan, bahwa sekitar tahun 1941, beliau sudah mulai masuk ke Dayan Gunung atau sekarang sudah menjadi sebuah kabupaten baru yaitu Lombok Utara.
Kedatangan beliu pertama kali di Bayan, disambut oleh Endi Abdul Gani, salah seorang keturunan Bugis-Makasar yang tinggal di Desa Sukadana Kecamatan Bayan. Konon pertemuan beliau dengan Endi Abdul Gani tanpa disengaja ketika sedang berdagang di Dusun Panggung Desa Selengen.
Kebetulan pada saat itu, TGH.M. Zainuddin Arsyad menjual garam, sementara Endi Abdul Gani sebagai pembeli. Di saat terjada tawar menawar harga garam, Endi Abdul Gani mengaku heran, karena sang si penjual (TGH.M. Zainuddin Arsyad-pen) bukan menawarkan dengan harga tinggi, namun malah sebaliknya.
Karena kejadian tersebut, pembicaraan antara pedagang dan pembeli inipun berlanjut dan saling memperkenalkan diri. Endi Abdul Gani pun mengajak beliu ke rumahnya di Gubug Bangsal-Telaga Begek Desa Sukadana.
Sikap sopan dan rendah hati, bertutur bijaksana dan bertingkah santun. Inilah ditunjukkan ketika bertamu di rumah Endi Abdul Gani, membuat sang pemilik rumah semakin kagum, dan persahabatan mereka berduapun berlanjut. Demikian juga dengan hubungan kegiatan jual beli terus terjalin. Bak gayung bersambut, dari rumah sahabatnya inilah, beliau mulai lakukan dakwah Islam, yang lambat laun terus mengalami kemajuan.
Dan bila waktu sholat tiba, tidak lupa, beliau mengajak sahabatnya untuk menunaikan sholat secara berjama’ah, disebuah masjid kecil dan sederhana, yaitu masjid Panji Islam, yang dibangun orang Endi Abdurrahman yang berasal dari Pulau Sumbawa.

Berdakwah Dari Rumah ke Rumah
 
Persahabatan yang terjalin antara kedua hamba Allah (TGH.M. Zainuddin Arsyad dan Endi Abdul Gani-pen) semakin hari semakin erat. Dan setiap kali beliu datang, selalu diminta untuk memberikan sekedar ceramah agama. Namun demikian, sang sahabat Endi Abdul Gani, sedikitpun tidak tau, bahwa yang sering datang bertamu ke rumahnya adalah salah seorang ulama Sufi yang telah lama menempa ilmu di negeri Makkah Al-Mukarromah.
Setelah masing-masing menceritakan sejarah hidupnya, barulah Endi Abdul Gani, yang ketika itu sebagai kepala kampong (matua) menyadari bahwa, sahabatnya itu adalah orang yang memiliki ilmu agama yang mumpuni, dan patut sebagai tempat belajar memperdalam ilmu agama Islam.
Tidak heran, bila kedatangan sang shabat karibnya yang tiada lain adalah TGH. M. Zainuddin Arsyad selalu ditunggu-tunggu oleh Endi Abdul Gani bersama jama’ah lainnya. Kedatangan beliau tidak pernah disia-siakan. Endi Abdul Ganipun menyarankan kepada TGH. M. Zainuddin Arsyad, untuk sementara kegiatan dakwah dilakukan dari rumah ke rumah, atau menghindario berdakwah di tempat umum seperti masjid ataupun musalla.
Saran ini dikemukakan bukan tanpa alasan, namun karena mengingat kondisi masyarakat pada saat itu masih memliki keyakinan yang kuat khususnya tentang adat-istiadat Wetu Telu. Saran dan masukan dari sahabatnya inipun diterima.
Dalam menjalankan dakwahnya, Endi Abdul Gani selalu membantu beliau untuk mendatangi warga sambil membawa dagangannya. Bahkan, TGH.M. Zainuddin seringkali menginap di sebuah kampung Bugis di Labuhan Carik Desa Anyar. Dan ditempat terdapat sebuah Sekolah Rakyat (SR).
Labuhan carik tempat beliu bermukim, memiliki sejarah tersendiri, yang konon pada saat penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para Wali Songo, ditempat inilah berlabuhnya kapal mereka.
Sementara kegiatan dakwah di wilayah Panggung Desa Selengen dan sekitarnya dilakukan secara terus menerus, sehingga didirikanlah sebuah musalla pertama di dusun tersebut, sebagai tempat untuk mengumpulkan jama’ah yang mau belajar ilmu agama.
Lalu Hasan BA, salah seorang mantan camat Bayan menuturkan, kegiatan dakwah Islam yang dilakukan oleh TGH. M. Zainuddin Arsyad, khususnya di Dayan Gunung, pada masa kedistrikan Raden Kertapati.
Melihat dakwah Islam semakin berkembang di Bayan, membuat sebagian masyarakat menaruh rasa dendam, bahkan mengalami tekanan dari masyarakat sekitar. Ini terjadi, karena sebagian masyarakat menilai, dengan berkembangnya dakwah Islam di Bayan, akan dapat merusak keyakinan terutama tentang adat-istiadat yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Padahal pada faktanya, selama melakukan misi dakwah di Bayan, sedikitpun tidak pernah terdengar kabar, kalau dirinya menyinggung persoalan adat-istiadat.
Salah satu bentuk tekanan yang dilakukan oleh sebagian mereka adalah memutuskan hubungan jual-beli barang. Dan inilah salah satu cara menghentikan dakwahnya. Hal ini terjadi bukan saja terhadap dirinya, namun juga terhadap pengusaha yang berasal dan Mamben-Lombok Timur.

Tekanan seperti ini tidak berlangsung lama, karena pada akhirnya masyarakat setempat menyadari, bahwa TGH. M. Zainuddin Arsyad dalam berdakwah tidak pernah menyinggung masalah adat-istiadat yang berkembang di masyarakat.
Kegiatan dakwah yang dijalankan oleh Ulama Sufi yang memiliki enam orang putra ini, tampaknya membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Demikian juga dengan klegiatan yang dilakukan di Sembalun Lawang dan Bumbung, yang masyarakatnya tidak jauh berbeda dengan masyarakat di Bayan kala itu.
Di Sembalun, ketika beliau datang untuk berdakwah sangat jarang ditemukan masyarakatnya yang menjalankan ibadah sholat lima waktu. Kondisi ini tidak menyurutkan semangat perjuangannya dalam mendakwahkan ajaran Islam yang sempurna. Melalui pendekatan jual-beli barang, sang Tuan Guru muda ini sedikit demi sedikit memberikan pelajaran kepada setiap orang yang ditemuinya di Sembalun.
Awalnya, memang banyak menolak ketika diajak menunaikan sholat dengan berbagai alasan. Ada yang beralasan tidak memilki pakaian, dan ada juga yang memang benar-benar tidak mengetahui tata cara melaksanakan ibadah shalat.
Memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkan merupakan perbuatan amal yang sangat mulia. Inilah yang ditunjukkan oleh TGH. M. Zainuddin Arsyad. Bagi masyarakat yang beralasan tidak memiliki pakaian, diberikan secara cuma-cuma asalkan mereka mau mengerjakan sholat. Dan bagi mereka yang belum mengerti cara beribadah, beliau ajarkan dengan penuh lemah-lembut dan sabar, sampai orang tersebut bisa beribadah.
Perjalanan dakwah beliau ke berbagai pelosok wilayah terpencil, bukan berjalan mulus, namun penuh dengan tantangan, dari orang-orang yang memang tidak suka terhadap ajaran Islam yang kaffah. Bahkan ada juga yang melempari dan ingin membunuhnya.
Sekali melangkah kedepan, pantang untuk mundur ke belakang. Itulah mungkin salah satu tekad beliau dalam menyebarkan kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. Tantangan dan rintangan dijadikan sebuah pelajaran berharga sekaligus menguatkan tekad dan semangat dalam mensyi’arkan Islam.
Berkat kegigihannya berdakwah, sehingga menghasilkan kader-kader yang mumpuni dibidangnya. Kegiatan dakwah ini dilakukan mulai dari Desa Mamben Lauq dan Mamben Daya, Sembalun, Sajang, Sambelia, Obel-Obel, Bayan sampai Bongor Lombok Barat serta desa-desa lainnya.
Menurut penuturan salah seorang jamaah Yayasan Maraqitta’limat Bayan, TGH.M.Zainuddin Arsyad adalah salah seorang ulama yang santun dan penyabar. Bahkan beliau sering memberikan pinjaman uang kepada msyarakat yang membutuhkan. Beliau tidak segan-segan membebaskan hutang kepada seseorang apabila orang tersebut mau menjalankan syariat islam sepenuhnya. Melihat akhlak beliau yang seperti itulah akhirnya banyak masyarakat berbondong-bondong m,enyatakan diri masuk ke dalam agama islam. Di mana beliau singgah melakukan misi dakwah, disitulah beliau mendirikan madrasah-madrasah sebagai tempat mengaji bagi masyarakat.

Merintis Pondok Pesantren Dan Yayasan Maraqitta’limat
 

Selain melakukan dakwah keliling, TGH. M. Zainuddin Arsyad juga merintis sebuah Majlis Ta’lim Darul Ulum. Majlis ta’lim inilah cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren (Ponpes) Yayasan Maraqitta’limat.
Di Majlis Ta’lim Darul Ulum, beliu mengajar santrinya berbagai disiplin ilmu agama. Kitab-kitab yang diajarkan antara lain, Ma’abadil Fiqih, Nahu Wadhih, Badrun Munir, Lughotul Arabiyah, Nahu Shoraf, Fathul Qarib, Tariqatul Islam, Tariqotul Hadiah, Ilmu Mantiq, Tafsir Al-Qur’an dan kitab-kitab lainnya.
Perkembangan Majlis Ta’lim yang dibinanya semakin hari terus mengalami kemajuan yang cukup signifikan, sehingga tempat belajarnya tidak mampu lagi menampung para santri yang berdatangan menuntut ilmu.
Melihat kondisi tersebut, beberapa tokoh masyarakat menyarankan agar mendirikan tempat belajar yang lebih luas dan layak. Untuk menampung para santri, pada tahun 1950, lokasi belajarnya dipindahkan ke sebuah musalla yang lebih luas yaitu musalla yang dibangun oleh Amak Sadar dan warga setempat, yang belakangan dikenal dengan Diniyah Islamiyah.
Adapun santri pertamanya antara lain, H. Abu Bakar, Amak Mukenah, Ustazd H. Farhan, H. Badarudin, H. Marzuki, H. Halil-Ladon, H. Rusli, Amaq Suarno, Amaq Husnah, Amaq Erah, Amaq Haderi, Amak As’ad, Inaq Wasifah dan lain-lain.
Para santri ini dibina untuk menjadi guru bagi genarasi berikutnya, sehingga tampil beberapa orang diantara mereka, disamping sebagai santri sekaligus bertindak sebagai pendidik.
Santri yang berhasil dididik pada tahap kedua, antara lain, H. Abdul Manan, Saleh Rihin, H. Ahyar )Mamben Daya) H. Arsyad (Lendang) dan beberapa santri lainnya. Disusul lagi dengan santri tahap III, yaitu, Amaq Saleh AM, Amaq Sa’adah, Amaq Hirpan, Amaq Sulhan, Siderah, Hurnaen, H. Maksum, dan H. Yasin.
Semakin banyaknya masyarakat yang mengaji kepada beliau, akhirnya pada tahun 1952 TGH.M.Zainuddin Arsyad bersama rekan-rekannya mendirikan sebuah pondok pesantren yang diberinama Pondok Pesantren Maraqitta’limat. Maraqitta’limat memiliki arti tangga pendidikan. Pondok Pesantren Maraqitta’limat berlokasi di desa Mamben Lauk, Kecamatan Wanasaba, Lombok timur, NTB yang pada akhirnya ponpes ini memiliki beberapa cabang yang tersebar di seluruh wilayah pulau Lombok bahkan luar dari pulau Lombok seperti Sumbawa, Makassar, dan Sulawesi Selatan.
Pada tahun 1964, TGH.M.Zainuddin Arsyad membentuk sebuah yayasan yang diberinama juga Yayasan Maraqitta’limat. TGH.M. Zainuddin Arsyad bertindak selaku ketua umum yayasan dan sekretarisnya adalah ust.H.Abdul Mannan. Yayasan Maraqitta’limat bergerak di bidang pendidikan, sosial dan dakwah.

Kegigihan beliau dalam melakukan pengkaderan patut menjadi contoh bagi generasi mendatang. Beliau tidak pernah mengenal lelah demi meraih cita-cita, yakni membumikan ajaran Islam yang satu-satunya di ridlai Allah SWT.
Kepedulian beliau dalam pendidikan umat, di samping melalui majlis ta’lim, juga melalui lembaga pendidikan formal dibawah naungan Yayasan Maraqitta’limat. Dari majlis ta’lim dan lembaga pendidikan inilah beliu bertujuan membentuk kepribadian manusia yang bertanggung jawab untuk membangun nusa, bangsa dan agama yang berpedoman pada Kitabullan dan Sunnah Rasulullah.
Kaitannya dengan menuntul ilmu, beliau menuangkan dalam pemikiran filosofisnya dengan mengutip penggalan ayat suci Al-Qur’an, yang sekaligus sebagai motto dalam mengembangkan lembaga pendidikan, yaitu kalimat : “Subhanalladzi ‘Allama Bil Qolam, ‘Allamal Inssana Malam Ya’lam” .

Proses Pendirian
 
Proses Pendirian pondok pesantren dan yayasan Maraqitta’limat, memang mengalami perjalanan yang cukup panjang. Dimana proses ini diawali dengan dakwah berkeliling, berdagang serta membangun Madrasah Diniyah Islamiyah. Gagasan pendirian lembaga pendidikan inipun mendapat respon positif dari jama’ah.
Sekitar tahun 1951, beliau melakukan musyawarah dengan para tokoh dan santrinya yang dihadiri langsung oleh ayahanda TGH. M. Arsyad. Beberapa tokoh yang hadir antara lain, HM. Amin, TGH. Mustaqim, Papuk Hayat, H. Halidi, HM. Hamid, H. Baharudin, Guru Nurminah, A. Munaqif, H. Mahmudin dan H. Ridwan.
Musyawarah pertama ini dilanjutkan dengan pertemuan kedua dengan mengundang “Keliang Kampung” atau kepala dusun, seperti H. Mustafa, H. Mukhtar, Anhar, Guru Badar, A. Manan, A. Muhriah, A. Saknah, HM Saleh, A. Kalsum, A. Nasrun, A. Sakrah, A. Erah, A. Saenah dan beberapa tokoh lainnya.
Beberapa saksi yang masih hidup menyebutkan, musyawarah ketika itu sedikit berjalan alot, terutama ketika menentukan sebuah nama lembaga pendidikan. Sebagian perserta mengusulakan nama “Darul Ulum” dan sebagiannya lagi “Maraqitta’limat”.
Sebagian peserta berpendapat, bila lembaga pendidikan diberinama Darul Ulum, itu berarti kita mengambil nama dari sebuah lembaga pendidikan yang terkenal di tanah suci Makkah. Jadi yang paling pas adalah nama Maraqitta’limat. Dan nama inipun disetujui oleh semua peserta musyawarah.
Setelah nama mendapat kesepakatan peserta, kemudian dilanjutkan dengan pendirian Madrasah Ibtidayah pertama yang pembangunannya murni dari swadaya masyarakat. Dalam perjalanan politik Indonesia ketika itu, para pejuang dan pendiri Madrasah ini berhaluan kepada Partai Majlis Syuro Indonesia (Masyumi) yang diketuai KH. Agus Alwi dan Umar Semeq.
Setelah lembaga pendidikan ini berjalan, pada tahun 1959, perjuangan inipun dilanjutkan dengan penyusunan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD-ART). Dan pada tahun 1960, pihak pengurus Madrasah melakukan kerjasama dengan pimpinan Muhammadiyah di Masbagek-Lombok Timur, terutama dalam hal pembuatan Akte Notaris yayasan Maraqitta’limat. Dan pada tahun itu, yang menjadi Gubernur NTB adalah Wadita Kusuma, sementara yang menjabat sebagai bupati Lombok Timur Lalu Wildan. Pada tanggal 30 Juni 1964, yayasan Maraqitta’limat pun diresmikan. Hadir dalam peresmian tersebut adalah beberapa tokoh Masyumi dari pusat, seperti KH. Muhammad Hafiz, ormas Islam se Pulau Lombok dan beberapa pejabat pemerintah lainnya.
Dalam melakukan perencaan pembangunan, TGH. M. Zainuddin Arsyad selalu melakukan musyawarah dengan semua pihak, entah itu pengusaha, para tokoh agama, maupun masyarakat.
Menurut beberapa tokoh Maraqitta’limat, dalam melakukan musyawarah beliu menggunakan tiga tahapan. Pertama kali beliau mengundang para pengusaha. Setelah itu baru dikumpulkan para tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemuda termasuk pengurus ranting. Kemudian memasuki tahapan ketiga yaitu mengundang para guru. Dengan cara yang demikian, mereka dapat mengemukakan pendapat masing-masing, yang selanjutnya disimpulkan menjadi sebuah rencana yang akan dijalankan oleh semua pihak, sekaligus menyusun panitia pembangunan.
Peran antara pengusaha, tokoh masayarakat, agama dan pemuda serta para guru tentu berbeda. Para pengusaha mengumpulkan biaya pembangunan sarana dan prasarana lembaga pendidikan, sementara para tokoh bertugas mensosialisasikan hasil kesepakatan. Sedangkan para guru berperan untuk mendidik siswa di lembaga pendidikan yang akan didirikan atau dibangun.
Beberapa murid dan sahabatnya pernah menuturkan, bahwa ketika membangunan gedung Madrasah Ibtidaiyah yang pertama di Desa Mamben Lauq Kabupaten Lombok Timur, TGH. M. Zainuddin Arsyad kerap kali menerima kata-kata yang kurang berkenan dihati, yang dilontarkan oleh sebagian masyarakat yang kurang paham akan pentingnya arti sebuah lembaga pendidikan. Bahkan, ketika beliau bersama jama’ah melakukan kegiatan gotong royong, ia dilempar dengan batu dan kotoran.
Namun semua kejadian itu, ia hadapi dengan penuh kesabaran dan menyarankan kepada jama’ah untuk tidak melakukan lemparan balasan. Karena orang yang melakukan hal tersebut dinilai buta walaupun pada mata zhahirnya melihat. Artinya masih buta mata hatinya karena belum mendapat hidayah dari Allah SWT.
Yayasan Maraqitta’limat yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan dan sosial kemasyarakatan, terus mengalami kemajuan. Di bidang dakwah misalnya, beliau telah berhasil melakukan pengkaderesasian untuk melanjutkan perjuangannya. Tidak kurang 116 majlis ta’lim didirikan di seluruh Pulau Lombok. Demikian juga dengan lembaga pendidikan dan sosial kemasyarkatan terus megalami kemajuan yang cukup signifikan.


Berpulang Ke Rahmatullah

 
Di tengah perkembangan Yayasan Pondok Pesantren Maraqitta’limat yang begitu pesat, TGH.M.Zainuddin Arsyad berpulang ke rahmatullah pada tanggal 4 Februari 1991, beliau meninggalkan seorang istri dan 6 orang putra. Sebelum meninggal, beliau menunjuk putra beliau yang ketiga, TGH.Hazmi Hamzar sebagai pengganti beliau.
Muktamar Yayasan Maraqitta’limat mengukuhkan TGH.Hazmi Hamzar sebagai pucuk pimpinan Yayasan pondok Pesantren Maraqitta’limat. Sampai sampai saat ini Yayasan Pondok Pesantren Maraqitta’limat memiliki 19 Madrasah Ibtidaiyah, 3 SD Islam, 17 Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, 2 buah SMU, dan beberapa buah SMK serta 2 buah perguruan tinggi yaitu STIKES dan STKIP Hamzar.
Selain mengelola bidang pendidikan, Maraqitta’limat juga bergerak di bidang dakwah dan social yang ditandai dengan ratusan majelis ta’lim dan berdirinya beberapa pantai Asuhan yang tersebar di berbagai wilayah di provinsi Nusa Tenggara Barat bahkan di luar provinsi NTB seperti Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur.
Di bidang ekonomi, Yayasan Maraqitta’limat memiliki Koperasi Pondok Pesantren Putra Hamzar yang di ketuai oleh H. Mashal, SH.MM (putra TGH.M.Zainuddin Arsyad yang ke-5). Di usia yang ke – 59 Yayasan Maraqitta’limat memiliki berbagai macam program yang harus tuntas di tahun 2010 diantaranya program satu rumah satu sarjana yang mendapat respon positif dari Menteri Agama RI, pendirian Radio Ummat Al-Hamzar, pembentukan Pusat Bimbingan konseling dan sejumlah program lainnya. (Adlan Mamnun/Ari)
READ MORE - Menelusuri Jejak Dakwah TGH.M.Zainuddin Arsyad (Pendiri Yayasan Maraqitta’limat)

Setan Bisu

Oleh Prof Dr KH Achmad Satori

Dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah disebutkan, "Yang tidak meyuarakan kebenaran adalah setan bisu." (Lihat hlm 62 bab as-shumti). Ungkapan ini bukan hadis, tapi dikutip oleh banyak ulama dalam fatwa dan kitab-kitab mereka. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam Majmu' fatawa. Ibnu al-Qayyim juga menukilnya. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim juga mengutipnya dari Abi al-Qasim al-Qusyairy yang meriwayatkan dari Abu 'Ali ad-Daqqaq an-Naisaburi as-Syafi'i. Kemungkinan besar Abu Ali ad-Daqqaq inilah yang pertama mengutip ungkapan di atas. Kendati bukan hadis, isi dan jiwa kalimat tersebut sejalan dengan QS Ali Imran ayat 104, at-Taubah:71, dan lainnya. Juga seirama dengan makna banyak hadis amar makruf dan nahi mungkar.

Setiap mukmin berkewajiban untuk mengingkari yang batil dan menyeru kepada yang makruf sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah bersabda, "Barang siapa di antara kamu sekalian melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan (atau kekuasaannya) bila tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan lisannya (nasihat) dan bila tidak kuasa maka hendaklah mengingkari dengan hatinya, yang terakhir ini adalah selemah-lemah iman." (HR Imam Muslim).

Bila seorang Muslim tidak melakukan nahi mungkar padahal mampu dan tidak ada penghalang maka dia adalah setan gagu. Lebih parah lagi bila ada orang yang menyuarakan kebatilan, dia dijuluki sebagai jubir setan.

Kita sering menyaksikan Muslim yang komitmen menegakkan amar makruf dan nahi mungkar tetapi tidak mau menyuarakan yang hak ketika melihat pelanggaran yang sudah merata di masyarakat. Di antara sebabnya, rasa takut dimusuhi ahlul bathil, khawatir dicopot dari jabatannya, takut diisolir dari masyarakatnya seperti yang dialami Siami di Surabaya atau disebabkan hal-hal lainnya.

Kebaikan apa yang bisa diharapkan dari seorang yang tidak menyuarakan yang hak ketika melihat larangan Allah ditabrak, batas-batas ajaran agama dilanggar dan ketentuan agama ditinggalkan? Bukankah musibah agama terbesar datang dari mereka yang merasa enak hidupnya, dan memiliki jabatan mapan tapi tidak peduli dengan musibah yang menimpa agamanya?

Umat Islam masih menjadi umat terbaik bila amar makruf dan nahi mungkar ditegakkan. "Kamu adalah umat Yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, manyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah." (Ali Imran, 110).

Ketika maksiat berkeliaran di tengah-tengah umat manusia, penyelewengan merata di mana-mana sedangkan setan bisu dan jubir setan semakin banyak, maka Allah akan menimpakan kepada umat ini beberapa malapetaka yang mengerikan: pertama, diberi musibah merata; kedua, umat akan dikuasai preman; ketiga, manusia akan saling bunuh; dan keempat, doa ulama tidak dikabulkan.

Abu Nu'aim meriwayatkan dalam Kitab Al-Hilyah, dari Abur Riqaad, bahwa ia berkata, "Hendaknya kamu memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkar, dan menyuruh kebaikan atau kamu sekalian akan disiksa bersama atau kamu diperintah oleh orang-orang jahat di antara kamu kemudian bila para tokohnya berdoa tidak lagi akan dikabulkan. Na'udzubillah mindzalik.
READ MORE - Setan Bisu

Jumat, 01 Juli 2011

Emma Taylor, Si Dugem Yang Kini Memeluk Islam

LONDON - Ada sekitar 100 ribu mualaf di Inggris Raya yang kebanyakan adalah kaum wanita kulit putih. Berdasarkan studi organisasi Faith Matters, jumlah tersebut meningkat dibanding data 2001 sebanyak 60 ribu mualaf.

Studi Universitas Swansea menemukan sebanyak 5,200 penduduk Inggris tahun lalu telah memeluk Islam. Survei terhadap 122 mualaf tahun lalu menunjukkan sebanyak 56 persen mualaf merupakan warga Inggris berkulit putih. Sebanyak 62 persennya adalah kaum wanita.

Seperti dikutip thesun.co.uk, Samantha Wostear dan Dulcie Pearce mewawancarai tiga wanita mualaf. Emma Taylor, wanita usia 30 tahun asal Reading, adalah salah satunya. Jauh sebelum menjadi mualaf, Emma adalah gadis dugem yang menghabiskan waktu dengan berpesta.

''Saya tumbuh dalam lingkungan keluarga Katolik. Tapi, setelah lulus sekolah, pesta dan gaya hidup WAG menjadi agamaku,'' kata Emma. ''Saya suka membeli baju-baju seksi dan dugem bersama teman-temanku.''

Bekerja sebagai petugas administrasi di sebuah perusahaan, penghasilan Emma hanya sebesar 16 ribu poundsterling. Namun, Emma tahun lalu mulai menekan pengeluarannya dengan hidup berbagi rumah. Emma pun bisa menyisihkan penghasilannya untuk ditabung.

Hidayah lewat Shalat
Pada Januari tahun lalu, Emma mulai berpikir tentang kehidupannya yang hampa. Dia selalu bangun pagi dengan kondisi belum pulih dari hasil mabuk semalam. Emma tidak pernah memiliki hubungan yang serius dan panjang dengan lelaki. Dia juga tidak memiliki sebuah ambisi dalam kehidupannya.

Emma dalam kondisi terpuruk ketika teman Muslimnya suatu malam datang mengundangnya untuk makan malam. Susan, nama sang teman tersebut, lebih stabil dan berisi dibandingkan dengan teman-teman Emma lainnya.

''Saya selalu meminta nasehat kepada Susan. Padahal, dia lebih muda dua tahun dari diriku,'' kata Emma. ''Dia masuk Islam tiga tahun lalu.''

Ketika Emma masuk ke kamar Susan, Emma melihat Susan sedang shalat. ''Saya memerhatikannya dan dia terlihat begitu damai dengan kehidupannya,'' katanya.

Sejak saat itu, Emma mulai tertarik untuk mengetahui Islam lebih dalam. Emma sering bertanya kepada Susan tentang Islam. ''Tapi, Susan tidak mengguruiku. Dia justru menyarankan aku untuk mencari informasi tentang Islam lewat internet dan memintaku pergi ke masjid,'' ujarnya.

Perasaan Yang Aneh
Pada 2 Maret, Emma pergi ke masjid bersama Susan. ''Dia mengatakan bahwa saya harus memakai pakaian sopan. Dia memberiku jilbab,'' kata Emma. ''Itulah hari yang mengubah kehidupanku.''

Duduk bersama dengan muslimah lainnya, Emma mengaku dirinya saat itu merasakan suatu perasaan yang aneh. Dia merasakan sesuatu yang melegakan hatinya. Emma merasa permasalahannya selama ini langsung hilang.

Emma menyukai pertemuan yang dipisahkan antara kaum wanita dan pria. Dia menikmati rasa persaudaraan dalam pertemuan tersebut. ''Untuk pertama kalinya, saya merasakan sisi spiritualku hidup,'' katanya.

Masa Lalu
Dengan bantuan teman, Emma akhirnya memeluk Islam. Itu merupakan perubahan radikal dalam kehidupannya. Teman-temannya menilai Emma sudah gila.

Namun, Emma mencoba bertahan menghadapi orang-orang yang tidak menyukai keputusannya untuk masuk Islam. Dia kini memiliki komunitas Muslin sebagai teman baru yang berasal dari berbagai ras dan sangat terbuka.

''Saya sekarang shalat lima waktu sehari, membaca Alquran, pergi ke masjid dan disambut hangat oleh setiap orang. Banyak wanita kulit putih seumuranku,'' katanya.

Dugem dan pesta kini menjadi masa lalu Emma. Dia mengaku sudah tidak minum-minum lagi dalam enam bulan terakhir. Emma teringat ketika dia menyelinap-nyelinap untuk minum minuman keras pertama kali pada usia 13 tahun.

Emma kini mengenakan pakain abaya dan jilbab tiap kali pergi keluar rumah. Dia juga tidak lagi makan babi. ''Saya katakan kepada teman-temanku bahwa kesukaanku pada daging babi kini telah digantikan dengan kecintaanku terhadap agama baruku.''
Redaktur: Didi Purwadi
Sumber: www.thesun.co.uk
READ MORE - Emma Taylor, Si Dugem Yang Kini Memeluk Islam

Mahasiswa Beberkan Dugaan Bukti Penyimpangan Pengelola

Lombok Utara - Karena merasa di permainkan dan dipermalukan saat mendatangi kampus induk di Mataram, untuk memperjelas nasib mereka (mahasiswa-red), sejumlah mahasiswa ahirnya membeberkan beberapa bukti penyimpangan yang dilakukan pihka pengelola Kampus II Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Tanjung, salah satunya bukti pembayaran SPP ke rekening atas nama pribadi ketua pengelola kampus, H. Hambali.

Mahasiswa kampus II merasa ditelantarkan dan tidak dibela sedikit pun oleh pihak pengelola dalam menyelesaikan permasalahan yang selama ini terjadi sehingga sejumlah mahasiswa berinisiatif mendatangi kampus induk di Mataram, namun di kampus Induk para mahasiswa ini dianggap ilegal oleh salah satu dekan dikampus induk, karena tidak terdaftar sebagai mahasiswa.

Salah seorang mahasiswa kampus II UNW Tanjung, Armando pada wartawan beberapa waktu lalu mengatakan, kami bosan diperlakukan seperti ini, nasib kami hingga hari ini tidak jelas, bahkan saat kami mendatangi kampus induk di Mataram, kami justru dipermalukan karena kami tidak dianggap sebagai mahasiswa dan dinilai illegal,” cetusnya.

“Kami tidak melihat ada tindakan advokasi dari ketua pengelola terhadap permasalahan mahasiswanya, malah kini dia menghilang, dan tentu mahasiswalah yang jadi korban dan ratusan mahasiswa lainnya terlantar,” jelasnya.

Mahasiswa jurusan ekonomi semester VIII ini menjelaskan, ia dan beberapa mahasiswa lainnya berusaha menemui H, Hambali dikampus, namun tidak juga memperlihatkan bantang hidungnya, hingga kami mencari ke rumahnya, namun tidak kami temui juga,” katanya. “Dia sangat sulit dihubungi dan ditemui, kami hanya ingin mempertanyakan nasib dan status kami di kampus ini, jangan sampai kami dianggap ilegal, karena itu akan merugikan kami kedepannya,” tambahnya dengan nada tinggi.

Tak hanya itu ia juga mengatakan memilki bebrapa bukti penyimpangan yang dilakukan pengelola kampus, salah satunya bukti pembayaran SPP mahasiswa yang masuk ke rekening peribadi ketua pengelola. “Ini buktinya, dan silahkan tanyakan langsung ke pihak yang bersangkutan,” tandasnya seraya memperlihatkan lembaran rekening yang diduga milik H. Hambali.

Sementara, anggota Komisi I DPRD KLU, Ardianto, SH, diruang kerjanya mengatakan, dalam masalah ini, mahasiswa tidak masuk keranah konflik internal antar pihak pengelola kampus II dengan kampus induk, namun yang ditunut adalah status mereka dan kejelaskan nasib mereka kedepannya.

“Jika tidak bermasalah, tidak mungkin mahasiswa itu tidak diakui di kampus induk Mataram, itu artinya disini ada kesalahan perijinan dan hal-hal administratif lainnya yang dilakukan pengelola,” jelasnya.
Ditempat terpisah, salah satu tokoh pendidikan di KLU, Drs. Humaidy Hamid, MM mengatakan, tidak diperbolehkannya kelas jauh itu sudah jelas tertera dalam surat edaran Dikti. “Dalam surat yang diterbitkan direktorat jendral pendidikan tinggi (Dikti), nomor 2630/D/T/200, tentang penyelenggaraan kelas jauh, sudah jelas tertera dalam point pertama, menyebutkan kelas jauh dalam bentuk apapun tidak dapat dibenarkan,” katanya.

Pendidikan kelas jauh lanjut Humaidy, berbeda dengan pendidikan jarak jauh yang system perkuliahannya dengan menggunakan prangkat media teknologi sesuai dengan modul yang sudah ditentukan juga, dan itu hanya boleh diadakan oleh Universitas Terbuka, tapi pendidikan jarak jauh ditangani oleh universitas terbuka, bukan sifatnya kelas jauh seperti yang dilakukan perguruan tinggi swasta (PTS) dan perguruan tinggi negeri (PTN),” sebutnya.

Sementara Pengelola kampus II UNW Tanjung, dikonfirmasi terkait hal ini mengatakan aktifitas perkuliahaan sudah kembali dilakukan di kampus II. Dan bagi siswa yang mau kuliah di Tanjung atau di Mataram, itu urusan mereka,” kelitnya.


Disinggung terkait adanya mahasiswa yang membeberkan sejumlah bukti dugaan penyimpangan yang di tuduhkan pada dirinya? , Lelaki yang juga sebagai Ketua Gabungan Pelaksana Kontruksi Nasional Indonesia (Gapensi) KLU ini menjelaskan, saya tidak mau berkomentar, silahkan datang kekampus induk agar lebih jelas.“ Saya minta kepada mahasiswa agar jangan sedikit-dikit main media,” tandasnya. (adam/Ari)
READ MORE - Mahasiswa Beberkan Dugaan Bukti Penyimpangan Pengelola